Biografi Imam Ahmad Ibn Hanbal
A. Pendahuluan
Sebagai
seorang muslim, kita harus mempunyai pengetahuan yang tinggi terutama tentang
dirasat islamiyah, baik dalam bidang fiqh, tasawuf, ulumul qur’an, tarikh,
ulumul hadits, dan masih banyak lagi bidang keilmuan lainnya. Karena jika para
generasi muslim mempunyai intelektual yang tinggi bukan tidak mungkin isalm di
dunia ini bisa tumbuh berkembang dengan pesat dan mencapai zaman keemasan yang
lebih dari sebelumnya.
Dalam
kesempatan kali ini para mahasiswa bahasa dan sastra arab mencoba untuk mendeskripsikan
tokoh-tokoh ahli hadits yang namanya sudah tidak asing lagi. Mereka adalah
sosok pilihan Allah yang ditugaskan untuk mengemban warisan kenabian berupa
ilmu yang sangat banyak dan bermanfaat. Yang karya-karyanya pun masih ada
hingga sekarang dan dapat di gunakan sebagai ladang ilmu pengetahuan. Salah
satu dari ahli hadist yang terkenal itu adalah Imam Ahmad Ibn Hanbal. Beliau juga
merupakan imam terakhir dari empat imam
madzhab yang terkenal sepanjang sejarah. Dan dapat dipastikan banwa tidak akan
ditemukan lagi imam seperti mereka yang memiliki berbagai keahlian.
Sehingga,
semoga dengan adanya makalah yang berjudul “Biografi Imam Ahmad Ibn Hanbal” ini
kita dapat meneladani setiap jejak langkah dari perjuangan beliau dan
kesungguh-sungguhan beliau dalam setiap hal kebaikan yang beliau lakukan. Dan
mencoba menerapkan suri teladan yang beliau contohkan dalam setiap lini
kehidupan kita. Yang terkenal dengan sifat wara’, berpegang teguh pada Al
Qur’an dan As- Sunah, menolak kedudukan, rendah diri, ketaqwaan, takut kepada
Allah, ikhlas dalam beribadah, banyak berdoa dan bermunajat.
B. Biografi Imam Ahmad Ibn Hanbal
1. Lahir dan Tumbuh kembangnya Imam Ahmad Ibn Hanbal
Ahmad Ibn Hanbal
merupakan ahli hadits dan teologi islam dilahirkan di baghdad tepatnya di kota
Maru/Merv (sekarang Mary di Turkmenistan) pada
20 Rabiul awal tahun 164H atau November 780 M. Nama lengkapnya Ahmad ibn
Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad ibn Idris ibn Abdillah bin Hayyan ibn
Abdillah bin Anas ibn Awf ibn Qasit ibn Mazin ibn syaiban ibn Zulal ibn
Ismail ibn Ibrahim. Dengan kata lain, beliau
merupakan keturunan Arab dari suku Syaiban, laqab al Syaiban.
Ketika Ahmad kecil, ayahnya berpulang ke rahmatullah dan hanya
meninggalkan harta pas pasan. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa jika ia ditanya
asal-usulnya maka ia mengatakan bahwa ia anak dari suku orang-orang miskin. Oleh karena itu
beliau menempuh kehidupan yang susah beberapa waktu yang lama, sehingga ia
terpaksa bekerja untuk mencari kebutuhan hidup, bekerja di kedai kedai jahit
sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Rajabul Hanbali, dan kadang kala ia
memungut sisa sisa tanaman yang ditinggalkan sesudah musim panen, setelah
mendapat izin dari pemiliknya tentunya.
Ahmad adalah
anak tunggal, dan semenjak kematian ayahnya itu sang ibu tidak menikah lagi
meskipun ibunya masih muda dan banyak yang melamarnya. Hal itu dilakukan agar bisa fokus
merawat anaknya, dan bisa tumbuh seperti apa yang di harapkannya. Meskipun imam Ahmad tidak mewaritsi harta dari ayah
dan kakeknya, tetapi beliau telah mewaritsi dari kakeknya kemulian nasab dan
kedudukan, sedang dari ayahnya telah mewaritsi kecintaan terhadap jihad dan
keberanian.
Semasa hidupnya ia merupakan ahli sunnah yang terbesar,
sholih, dan zuhud. Sesetengah para ulama menganggap ia adalah mujaddid abad ke
tiga.
2. Pendidikan Imam Ahmad
Ibn Hanbal
Ahmad Ibn Hanbal mendapat pendidikan
pertamanya dikota dimana ia di lahirkan hingga usia 19 tahun. Namun ada riwayat
lain yang menyebukkan bahwa Ahmad pergi ke luar baghdad pada usia 16 tahun. Saat itu, kota Baghdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang
penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli
hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya. Sejak kecil ahmad telah di
sekolahkan pada ahli qiraat dan ilmu Al Quran. Sehingga pada umur 15 tahun ia telah dapat menghafal Al Quran. Selain itu ia
juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Ia juga menghabiskan
waktu kanak-kanaknya untuk bolak-balik mengunjungi perpustakaan. Sejak usia 16 tahun ahmad juga
telah belajar hadits untuk pertama kalinya kepada Abu Yusuf, seorang rayi dan
salah satu sahabat Abu hanifah. Karena kecintaanya terhadap hadits, pagi-pagi
buta ia selalu datag ke masjid-massjid, hingga ibunya merindukannya.
Tahun 183 H Ahmad Ibn Hanbal pergi ke
beberapa kota dalam rangka mencari ilmu. Ia pergi ke Kuffah pada tahun 183 H,
kemudian ke Bashrah padatahun 186, ke Makkah paada tahun 187, dialnjutkan ke
madinah dan Yaman pada tahun 197. Selain itu ia juga pergi ke Syiria dan
Masopotamia. Selama perjalannya Ahmad Ibn Hanbal memusatkan perhatiannya untuk
mencari hadits. Ia terdorong pergi ke berbagai wilayah untuk mencari hadits
karena ia banyak sekalil melihat bid’ah yang tersebar di berbagai masyarakat.
Kondisi
kehidupan yang dari awal sudah sederhana meemotivasi Ahmad Ibn Hanbal untuk belajar dengan
sungguh-sungguh. Ia banyak mendapatkan hadits-hadits Hasyim, Sufyan, Abu Dawud,
Yahya Al Qatan dan masih banyaklagi ulama-ulama yang lainnya.
Keteguhannya dalam mencari ilmu pun telah mengantarkan imam
Ahmad menjadi ulama besar dan disegani, baik dari kalangan masyarakat awwam,
terpelajar maupun dari kalangan penguasa. Dalam rihlah ilmiyyah yang beliau
jalani, ada satu pelajaran yang patut kita contoh, setiap kali bekalnya habis,
beliau selalu mendermakan dirinya untuk bekerja guna melanjutkan perjalanannya.
Ia tidak mau menerima uang ataupun
materi lainnya selain dari hasil kerja keras dan hasil keringatnya sendiri.
Kecintaannya kepada ilmu begitu luar
biasa. Karenanya, setiap kali mendengar ada ulama terkenal di suatu tempat, ia
rela menempuh perjalanan jauh dan waktu lama hanya untuk menimba ilmu dari sang
ulama. Kecintaan kepada ilmu jua yang menjadikan beliau rela tak menikah dalam
usia muda. Beliau baru menikah setelah usia 40 tahun.
3. Guru-guru dan Murid-murid Imam Ahmad
Ibn Hanbal
Imam Ahmad Ibn
Hanbal berguru kepada banyak ‘ulama, jumlahnya lebih dari 280 yang tersebar di
berbagai negeri, seperti baghdad, makkah, basrah, madinah, yaman dan
negeri-negeri lainnya. Diantara beliau adalah:
- Al Qadli Abu Yusuf
- Ali bin Hasyim bin al Barid
- Mu’tamar bin Sulaiman
- ‘Amru bin Muhamad bin Ukh asy Syura
- Ibnu Numair
- Abu Bakar Bin Iyas
- Muhamad bin Ubaid ath Thanafusi
- Yahya bin Abi Zaidah
- Abdul Rahman bin Mahdi
- Yazid bin Harun
- Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani
- Muhammad bin Ja’far
Dan masih banyak lagi guru-guru beliau. Sedangkan
murid-murid beliau adalah tidak hanya ahli hadits dari kalangan murid-murid
beliau saja yang meriwayatkan dari beliau, tetapi guru-guru beliau dan
ulama-ulama besar pada masanyapun tidak ketinggalan untuk meriwayatkan dari
beliau. Dengan ini ada klasifikasi
tersendiri dalam kategori murid beliau, diantaranya:
Guru beliau yang meriwayatkan hadits dari beliau;
1.
Abdurrazzaq
2.
Abdurrahman bin Mahdi
3.
Waki’ bin Al Jarrah
4.
Al Imam Asy Syafi’i
5.
Yahya bin Adam
6.
Al Hasan bin Musa al Asy-yab
Sedangkan dari ulama-ulama besar pada masanya yang
meriwayatkan dari beliau adalah;
1.
Al Imam Al Bukhari
2.
Al Imam Muslim bin Hajjaj
3.
Al Imam Abu Daud
4.
Al Imam At Tirmidzi
5.
Al Imam Ibnu Majah
6.
Al Imam An Nasa`i
Dan murid-murid beliau yang meriwayatkan dari beliau
adalah;
1.
Ali bin Al Madini
2.
Yahya bin Ma’in
3.
Dahim Asy Syami
4.
Ahmad bin Abi Al Hawari
5.
Ahmad bin Shalih Al Mishri
4. Karya-karya Imam Ahmad
Ibn Hanbal
Diantara karya-karya Imam Ahmad Ibn Hanbal adalah:
·
Kitab Al Musnad,
karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh
tujuh ribu hadits.
·
Kitab at-Tafsir,
namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
·
Kitab an-Nasikh wa
al-Mansukh
·
Kitab at-Tarikh
·
Kitab Hadits Syu'bah
·
Kitab al-Muqaddam wa
al-Mu'akkhar fi al-Qur`an
·
Kitab Jawabah
al-Qur`an
·
Kitab al-Manasik
al-Kabir
·
Kitab al-Manasik
as-Saghir
Menurut
Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal
·
Kitab al-'Ilal
·
Kitab al-Manasik
·
Kitab az-Zuhd
·
Kitab al-Iman
·
Kitab al-Masa'il
·
Kitab al-Asyribah اﻞ
·
Kitab al-Fadha'il
·
Kitab Tha'ah ar-Rasul
·
Kitab al-Fara'idh
·
Kitab ar-Radd ala
al-Jahmiyyah
Ibnul Qayyim
menuturkan bahwa Imam Ahmad Ibn Hanbal tidak menyukao menulis buku, ia lebih
suka menyampaikan hadits, dan beliau juga tidak menyukai ucapan-ucapanya
ditulis, bahkan ia sangat bersikap keras akan hal itu. Seandainya ia tidak
berpendapat seperti itu, mungkin karangan-karanganya akan banyak sekali.
Allah maha
mengetahui kebaikan niat dan tujuannya, sehingga ada akhirnya ucapan dan
fatwa-fatwanya dapat ditulis, yang jumlahnyalebih dari tiga ratus buku.
Fatwa-fatwa Imam Ahmad Ibn Hanbal dan berbagai masalah yang dijawabnya telah
diriwayatkan dari abad ke abaddan menjadi pegangan utama para ahli hadits
denagn berbagai tingkatan.
5. Komentar Ulama’ tentang Imam Ahmad Ibn Hanbal
Banyak sekali para
ulama’ yang berkomentar tentang Ahmad Ibn Hanbal. Baik tentang kecerdasannya,
kewara’annya, ketaqwaanya, perangainya dan masih banyak lagi yang lainnya. Para
ulama yang turut memberikan komentarnya tentang Imam Ahmad Ibn Hanbal
diiantaranya adalah:
·
Abu Ja’far yang mengatakan bahwa Ahmad
Ibn Hanbal merupakan orang yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik
pergaulan seerta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali
mudzakarah hadits, dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat, tenang,
dan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan orang lain maka ia sangat ceria
dan menghadapkan wajahnya. Ia juga sangat rendah hati dan sangat menghormati
guru-gurunya.
·
Imam Syafi’i berkata “Ketika aku keluar dari Baghdad, tidak ada seorang pun
yang aku tinggalkan yang lebih wara’, yang lebih taqwa, yang lebih fakih, dan
yang lebih berilmu daripada Imam Ahmad Ibn Hanbal.
·
Ibnu Sa’id Ar-Razi berkata “Aku tiadak pernah melihat orang yang lebih
hafal hadits Rasulullah SAW, lebih mengetahui tentang fikih, dan
makna-maknanya”.
·
Abu Hatim menuturkan “Aku bertanya kepada ayahku tentang ‘Ali bin Al Madini
dan Imam Ahmad Ibn Hanbal, ‘siapa
diaantara keduanya yang paling hafidz?’ maka ayahku menjawab ‘keduanya didalam
hafalan salling mendekat, tetapi Ahmad yang paling fakih’”.
·
Abu Bakar As Sijistani juga berkata “Aku pernah bertemu dengan dua ratus
masyayikh (guru-guru) ilmu, tidak ada satu pun yang dapat menyerupai Imam Ahmad
Ibn Hanbal. Dia betul-betul menyelami ilmu, dan jika disebutkan suatu ilmu,
maka dia adalah ahlinya”.
·
Ali juga berkata “ tidak ada seorang pun yang melaksanakan perintah isalam
seetelah Rasulallah selain Imam Ahmad Ibn Hanbal. Ditanyakan kepadanya,
“Wahai Abu Hasan, bahkan Abu Bakar
sekalipun?” dia menjawab “ya, sampai pun Abu Bakar”. “Sesungguhnya Abu Bakar
mempunyai pengikut dan Imam Ahmad Ibn Hanbal tidak mempunyai pengikut.
·
Yahya bin Ma’in menuturkan “Aku tidak pernah melihat seseorang yang
meriwayatkan hadits karna Allah kecuali tiga orang, yaitu: Ya’la bin ‘Ubaid, Al
Qa’nabi, Ahmad bin Hambal.
- Ibrahim berkata ”orang ‘alim pada zamannya adalah Sa’id bin Al Musayyab, Sufyan Ats Tsaur di zamannya, Ahmad bin Hambal di zamannya.’
·
Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya
melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu
orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.
C. Penutup
Dari bioragrafi
Imam Ahmad Ibn Hanbal dapat kita ketahui bahwa beliau merupakan imam termuda
dari keempat imam yang termuda dari keempat imam yang dirujuk oleh pengnut
sunni. Ia juga seorang ahli hadits sekaligus ahli fiqh. Salah satu karyanya
yang monumental dalam bidang hadits adalah sebuah kitab yang diberi nama
Musnad Amad Ibn Hanbal. Dan dalam bidang
fiqh beliau mempunyai tidak kurang dari 60.000 fatwa. Beliau juga ulama yang
yang sangat sungguh-sungguh dalam mempelajari setiap ilmu. Walaupun dengan
kondisi yang tidak begitu bersahabat, yaitu keadaan ekonomi sederhana beliau
justru termotivasi untuk lebih berjuang dan bersungguh sungguh dalam menimba
ilmu dan mencari hadits-hadits.
Oleh karena itu,
sebagai generasi penerus umat islam kita perlu tahu bagaimana sejarah
perkembangan islam, perjuangan para ulama-ulama terdahulu dan lain sebagainya.
Pentingnya pengetahuan itu diamaksudkan agar para umat islam di era ini bisa
menjadikannya sebagai batu loncatan agar umat islam yang sekarang bisa lebih
maju dan berkembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar